Ketika Pagi Dimulai dengan Ayat dan Aksara
SMPN 1 ARGAPURA - 2025-06-28
Tanah yang menjadi tempat benih-benih disemai akan merasa senang saat hausnya diguyur hujan. Sebab ia tahu, dengan datangnya hujan, benih di dalamnya akan mekar dan berkembang sempurna.
Tanah itu adalah kami-generasi muda, sang penerus bangsa yang selalu haus akan ilmu. Dan hujan yang dimaksud adalah membaca. Membaca bukan sekadar membuka buku dan menatap barisan huruf. Membaca adalah perjalanan menyusuri dunia baru, menyelami isi kepala sang pemilik ide. Melalui sunyi dan tenangnya tiap lembar beraroma khas itu, huruf-huruf yang tersusun menjadi kata, dan kata-kata yang tersusun menjadi kalimat, berhasil memberontak di dalam kepala-menghasilkan pemikiran serta ruang baru yang harganya tak ternilai.
Namun sayang, minat baca generasi muda kini ibarat bunga di musim kemarau: layu tak berkembang. Bukan karena kehilangan kapasitas untuk tumbuh, tapi seolah sengaja dibiarkan kahausan, kelaparan, hingga mati dengan sendirinya.
Sekolah saya mengerti akan hal itu. Maka, SMPN 1 Argapura menghadirkan program literasi: sebuah usaha yang tidak hanya mengajak, tetapi juga menanamkan. Setiap Kamis pagi kami benar-benar diajak terjun ke dalam hal-hal yang sebelumnya tak pernah singgah dalam benak kami. Kami dibuat sadar bahwa buku benar-benar menjembatani berbagai ilmu. Kami diberikan banyak ruang untuk meluaskan pikiran serta memperkaya sudut pandang sebelum akhirnya belajar tentang banyak hal.
Dan bukan hanya buku. Setiap Rabu pagi, ayat-ayat suci Al-Qur'an pun mengalun dari berbagai penjuru sekolah-menyatu, melambung, terbawa oleh udara, lalu sampai ke telinga. Ia berhasil menerangi nurani dan menuntun langkah kami di sepanjang hari itu.
Sebulan sekali, buku yang telah kami baca dikupas dan dikuliti dalam program Book Review. Di sinilah kami belajar bicara, belajar berani, dan belajar mengungkapkan isi kepala mengenai buku yang telah dilahap. Bukan hanya membahas siapa tokohnya dan bagaimana alurnya, tapi juga tentang apa yang tertinggal di dada setelah lembar terakhir ditutup.
Sebagai pelajar yang senantiasa melarikan diri pada membaca kala waktu terasa lenggang, saya percaya: program literasi ini telah menanam benih dengan dalam, dan kini mulai berbuah manis. Minat baca tumbuh, pemahaman menguat, keberanian bersuara mekar. Namun tentu, satu pohon saja takkan bisa menjadi hutan. Program ini butuh teman: perpustakaan yang berjalan dengan efektif, pojok baca di setiap ruang kelas, serta fasilitas lain yang yang dapat menjadi penunjang.
Namun demikian, membaca tak selalu berarti menyelami buku berjilid tebal dengan topik berat. Membaca juga bisa sesederhana melirik komposisi pada bungkus makanan, mengamati selebaran pamflet di arean umum, atau menyimak keterangan pada unggahan media sosial. Karena setiap huruf adalah peluang, dan setiap kalimat adalah kemungkinan.
Membacalah, karena membaca adalah bentuk pemberontakan paling damai-dan paling mematikan-terhadap kebodohan, ketidaktahuan, dan kemalasan berpikir.
0 Komentar
Bergabunglah dalam diskusiTinggalkan Komentar